Friday, 29 June 2012

Mengelola Keuangan Keluarga Secara Islami


Dalam agama, ekonomi keluarga mutlak tanggung jawab suami. Jika istri bekerja hasilnya untuk diri sendiri. Bila ditujukan untuk mencukupi kebutuhan keluarga, maka bernilai sedekah.
Pos apa yang pertama kali kita sisihkan saat pertama kali menerima gaji? Banyak ibu rumah tangga, lajang, dan para bapak menulis belanja rutin. Menurut perencana keuangan keluarga Achmad Ghazali, jawaban itu kurang benar. ”Yang benar adalah sisihkan dulu untuk zakat, infak dan sedekah (ZIS), bayar utang, menabung baru belanja rutin.”
Mengapa demikian, menurut dia karena belanja adalah pos yang paling fleksibel. Besar atau kecilnya tergantung kebiasaan dan kemauan personal.
ZIS menurut dia berurutan dengan dunia dan akhirat. Utang berkaitan dengan urusan dunia sehingga jika telat dibayar, maka orang yang bersangkutan harus membayar denda, bunga, dan diteror debt collector. Tabungan berkaitan dengan masa tua sehingga harus dikeluarkan lebih dahulu sebelum uang gaji dibagikan untuk pos belanja rumah tangga.
Lebih lanjut Achmad Ghazali mengatakan pengelolaan keuangan keluarga tak pernah diajarkan di bangku sekolah. ”Kita belajar keuangan negara, perusahaan, dan koperasi mulai bangku SMP hingga kuliah. Tapi tak satupun pelajaran manajemen kuangan keluarga.”
Secara berkelakar ia mengutarakan barangkali karena itu, banyak korupsi di Indonesia. ”Karena belajarnya keuangan negara, maka uang negara bercampur dengan uang rumah tangga. Begitu juga yang belajar keuangan perusahaan juga bercampur dengan keuangan pribadi.”
Ghazali mengatakan banyak orang datang padanya meminta bantuan mengelola keuangan yang bermasalah karena utang kartu kredit dan belanja berlebihan. ”Banyak kita salah kaprah belanja karena diskon. Padahal diskon yang perlu dicermati karena tak semua sesuai dengan diskon yang diiklankan.”
Dalam kaidah fikih yang dipaparkan Ahmad Nuryadi Asmawi, ekonomi keluarga mutlak tanggung jawab suami. Malah merujuk pada sebuah riwayat dia menyebut seharusnya belanja minimal untuk istri saja per hari sekitar 84 ribu. Hanya saja saat ini angka tersebut mungkin tak semua suami bisa memenuhi.
Mengenai cakupan nafkah yang menjadi tanggung jawab suami adalah semua jenis kebutuhan baik primer, sekunder, maupun komplimenter. Yang dimaksud primer adalah makan, minum, pakaian, dan semua perlengkapan termasuk tempat tinggal, kesehatan dan fasilitas yang layak dan pendidikan. Biaya sekunder termasuk pendidikan, kecantikan baik kosmetika dasar maupun kosmetika pelengkap. ”Jika istri bekerja hasilnya untuk diri sendiri. Tapi boleh disedekahkan untuk keluarga,” ujar Ahmad.
Disadur dari Republika, 2/2/2007

Alhabib Islamic Web Service

Alhabib Islamic Web Service

Tips Belanja Hemat

Apakah Anda merasa sebagai orang yang boros? terlebih ketika berada di pusat perbelanjaan? Berikut ini adalah beberapa tips belanja hemat yang patut Anda coba.

  1.  Buatlah terlebih dahulu daftar barang belanjaan yang akan Anda beli.
  2.  Tanyakan kepada tetangga,saudara,kelompok liqo',kelompok perwiritan,kelompok pengajian,sesama kader apakah memiliki kebutuhan yang sama dengan kita yang ingin juga dibeli dan jangan lupa minta sekalian dana yang bersangkutan bila mau nitip belanjaan.
  3.  kelompokkan daftar belanjaan kita dan belanjaan titipan berdasarkan jenis barang yang sama
  4.  belilah secara grosir barang yg memiliki kesamaan jenis barang yg telah dikelompokkan sebelumnya karena pembelian secara grosir tentunya harga akan jauh lebih murah ketimbang beli secara satuan atau kiloan.
  5.  Berusahalah mendapatkan update harga setiap minggunya untuk menghindari permainan harga di pasar.
  6.  Bawalah uang tunai seperlunya sesuai dengan kebutuhan belanja Anda tentunya ditambah dengan ongkos perjalanan atau uang parkir.
  7.  Hindari membawa kartu ATM, kartu debet, dan juga kartu kredit Anda.
  8.  Usahakan untuk mengisi perut sebelum pergi belanja. Hal ini demi kenyamanan Anda di saat berbelanja di samping untuk menghindari pengeluaran tambahan dengan makan di luar.
  9.  Ketika sampai di pusat perbelanjaan, prioritaskan daftar belanjaan Anda dari kebutuhan pokok dll.
  10.  Jangan tergiur dengan tulisan diskon, sale ataupun obral besar-besaran yang ada. Namun jika salah satu barang kebutuhan Anda tersedia di tempat tersebut, hal itu tidak akan menjadi masalah.
  11.  Manfaatkan layanan dan fasilitas yang diberikan pusat perbelanjaan seperti membership, point reward dll jika ada.
  12.  Hindari membawa anak-anak saat berbelanja. Selain ribet, anak-anak sering kali mempengaruhi impulse buying yang tak mudah dihindari dan akan menambah pengeluaran Anda.
  13.  Setelah daftar barang terpenuhi, pastikan untuk pulang tanpa mampir-mampir ke tempat lain.

Lelah Penuh Berkah

ANTARA
Lelah Penuh Berkah
Seorang ibu mengasuh anaknya sambil berjualan sayuran
Berita Terkait
"Sahabatku, inilah diantara lelah yang penuh berkah Allah
  • Menuntut ilmu (QS 3:7)
  • Mencari rizki yang halal bahkan bernilai jihad ditengah banyak yg haram (QS 62:10))
  • Mengandung, melahirkan, merawat anak-anak dan keluarga (QS 31:14)
  • Mengasuh anak yatim (QS 4:6)
  • Sabar dalam sakit, cacat, kemiskinan dan musibah (QS 2:155)
  • Berdakwah (QS 41:33)
  • Merawat orang tua diusia senjanya (QS 17:23) 
  • Lelah termulia adalah berjihad perang fisabillah (QS 3:180).
Memang melelahkan tetapi penuh berkah Allah, inilah yang membuat hidup sesaat ini jadi bermakna, dan ini pula yang membuat orang beriman itu senang menikmati kelelahannya "natamatta' bimataibina"

"let's enjoy our full tired", SubhanAllah, Allahumma berkahi ikhtiar kami dan sisa umur kami... Aamiin".
Redaktur: Slamet Riyanto

Monday, 25 June 2012

Generasi Ekonomi Syariah: Carilah Rezeki, Tapi Jangan Tamak

Generasi Ekonomi Syariah: Carilah Rezeki, Tapi Jangan Tamak: Carilah Rezeki, Tapi Jangan Tamak Oleh: M. Muttaqin, S.Sy Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan meliha...

Generasi Ekonomi Syariah: PASAR BERKAH

Generasi Ekonomi Syariah: PASAR BERKAH: PASAR BERKAH “laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli da...

Wednesday, 28 March 2012

Tips Berbisnis Ala Rasulullah SAW


Tips Berbisnis Ala Rasulullah SAW | Nabi Muhammad SAW merupakan suri tauladan bagi seluruh umat manusia. Selain sebagai Nabi, ternyata beliau juga banyak menunjukkan cara berbisnis yang benar. Bisnis yang benar menurut islam adalah bisnis yang menerapkan nilai-nilai syariat islam tentunya.
Kesuksesan Nabi Muhammad dalam berbisnis telah dirasakan sejak usia mudanya. Beliau banyak menerapkan strategi marketing bisnis yang sangat cerdas, tidak merugikan orang lain tapi menguntungkan bagi pebisnis yang menerapkannya.
Berikut adalah tips atau strategi marketing yang dilakukan Rasulullah SAW dalam mengembangkan bisnisnya
1. Jadikan “Jujur” Sebagai Brand Bisnis
Berkat kejujuran beliau (dalam segala hal), Nabi Muhammad mendapatkan julukan Al-Amin (Yang Dapat Dipercaya). Sikap jujur dalam bisnis ini beliau tunjukkan pada customer maupun pemasok barang dagangannya. Pada masa awal mula berbisnis, Nabi mengambil barang dagangannya ke Khadijah, seorang konglomerat kaya raya yang akhirnya menjadi istrinya.
Ketika bekerjasama dengan Khadijah, beliau selalu bersikap jujur. Selain jujur pada Khadijah, beliau juga jujur pada pelanggannya. Hal ini tercermin ketika pelanggan mendatanginya, beliau memasarkan barangnya dengan menjelaskan semua keunggulan dan kekurangan barang tersebut, tanpa mengharapkan keuntungan lebih besar dari hasil penjualannya.
Bagi Nabi Muhammad, kejujuran harus dijadikan brand dagang para pebisnis. Apapun jenis bisnisnya, kejujuran harus tetap ditempatkan pada posisi yang utama.
2. Sayangi Pelanggan
Pelanggan atau pembeli adalah raja, demikianlah prinsip dalam bisnis. Menarik satu pelanggan memang sulit tapi mempertahankannya justru lebih sulit. Nabi Muhammad memberikan contoh bahwa keuntungan dalam berbisnis hanyalah sekedar “hadiah” dari upaya kita.
Nabi selalu melayani costumers dengan ikhlas, beliau tidak rela jika pelanggannya tertipu saat membeli barangnya. Pesan yang disampaikan oleh beliau adalah “Cintailah saudaramu seperti mencintai dirimu sendiri”.
Jika pelayanan yang kita berikan kepada pelanggan itu memuaskan maka pelanggan juga akan terus percaya dan akan terus berlangganan dengan produk yang anda tawarkan. Begitu pula sebaliknya.
Letakkan kepuasan pelanggan ditingkat yang lebih tinggi. Cobalah memenuhi janji seperti apa yang pernah anda iklankan dalam pemasaran anda. Ini justru akan mengangkat kepercayaan pelanggan terhadap bisnis atau usaha anda.
3. Bedakan Jenis Produk Anda
Rasulullah SAW juga memberikan contoh untuk memisahkan antara barang yang bagus dan barang yang jelek. Selain itu, beliau juga membedakan harga sesuai kualitas produknya. Bukan menyamakan semua produk tanpa melihat kualitas produknya.
Dalam dunia marketing bisnis kita mengenal banyak jenis produk yang bisa dipasarkan. Tapi, faktanya justru sebaliknya. Sebagian besar malah mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dari “Cacat Produk”. Ini tentu akan merugikan pelanggan dan akan membuat pelanggan tidak percaya lagi dengan anda.
Mungkin masih banyak lagi nilai-nilai yang dapat diambil dari strategi marketing ala Rasulullah Muhammad SAW. Tapi jika anda pernah membaca atau sekedar ingin menambahkan silahkan ditulis saja di komentar. Semoga bermanfaat Tips Berbisnis Ala Rasulullah SAW .