Sunday, 31 October 2010

HIDUP BERSIH

Oleh K.H. ABDULLAH GYMNASTIAR
KESUNGGUHAN untuk senantiasa hidup bersih lahir dan batin merupakan salah satu cara untuk meraih derajat kemuliaan di sisi Allah. Alquran menuturkan, "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan dirinya." (Q.S. Al-Baqarah:222).
Dalam Islam, setiap akan melakukan salat, kita diwajibkan untuk bersuci. Bukan hanya suci tubuh, tapi juga suci pakaian, tempat ibadah, bahkan suci hati. Bagaimana orang akan tenteram dalam salat jika hatinya lalai, pikirannya "berkeliling" ke mana-mana? Suci tubuh dan hati adalah jembatan menuju kesempurnaan ibadah.
Prinsip bersuci dalam Islam tidak hanya dalam rangkaian ibadah, namun dapat kita temukan juga dalam kehidupan sosial sehari-hari. Dalam berniaga, berumah tangga, bergaul, bekerja, belajar, dan lain-lain. Di semua tempat itu kita diajarkan bersikap hidup suci. Menjauhkan diri dari dusta, kezaliman, menipu, khianat atau bahkan sikap bermuka dua (munafik). Itulah sesungguhnya hakikat pola hidup bersih seorang mukmin.
Melatih diri untuk senantiasa hidup bersih lahir batin adalah suatu tuntunan yang harus dijalani. Namun langkah itu sangat bergantung pada keseriusan dan tekad diri kita sendiri. Pola hidup bersih harus berawal dari diri sendiri. Mulailah berlatih hidup bersih dari hati, lisan, sikap dan tindakan.
Berusahalah agar setiap untaian kata yang keluar dari lisan kita penuh makna. Hindari kata-kata kotor, keji dan tidak senonoh. Sebab setiap kali kita bicara kotor, lay-out wajah bisa mendadak berubah menjadi buruk. Menurut suatu penelitian, untuk sebuah senyuman dibutuhkan tujuh belas tarikan otot wajah. Sedangkan jika wajah masam, cemberut atau marah, kita memerlukan tarikan tiga puluh dua otot. Secara fisik tentu jelek, apalagi dihitung dari sudut kesucian hati.
Makin hidup kita bersih, kita akan semakin peka. Coba lihat cermin yang bersih! Satu titik noda menempel padanya akan cepat ketahuan. Tapi kalau cermin kotor, penuh noda dan debu, digunakan untuk melihat wajah sendiri saja susah. Makin bersih diri kita, Insya Allah kita akan lebih peka melihat aib dan kekurangan diri sendiri. Bahkan kita akan lebih peka terhadap peluang amal dan juga ilmu. Sebaliknya, bagi yang kotor hati, jangankan untuk melihat kekurangan orang lain, melihat kekurangan diri saja tidak mampu.
Orang yang hidup kotor, sekalipun sering melanggar larangan Allah, tidak pernah merasa diri banyak dosa. Dia tidak pernah merasa bersalah dan mempunyai kekurangan. Kesalahan dia lihat pada orang lain melulu. Itulah buah dari hidup kotor. Harta kotor, pikiran kotor, dan kelakuan kotor menghasilkan "cermin" kotor. Hidup seperti ini tentu sangat jauh dari kebahagiaan dan kemuliaan.
Nabi Muhammad saw. adalah figur pribadi yang bersih tubuh, bersih pikiran, bersih ucapan, dan bersih hati. Tutur kata beliau penuh makna, jauh dari sia-sia. Tapi sikap dan penampilan beliau juga senantiasa rapi, bersih dan bersahaja. Setiap kali berwudu Rasulullah selalu bersiwak (menggosok gigi). Sesudah makan beliau juga bersiwak dan menjelang tidur pun beliau bersiwak.
Rasulullah tekun memelihara kebersihan tubuhnya. Tidak ada satu pun keterangan menyebutkan bahwa tubuh beliau kotor dan kusam. Bahkan keringatnya pun harum. Saking harumnya, menurut salah satu riwayat, sampai-sampai istri beliau sangat ingin menampung keringatnya.
Dalam urusan-urusan kecil pun Rasulullah senantiasa memberikan keteladanan. Beliau menganjurkan kita agar menggunting kuku serta membersihkan bulu-bulu tubuh. Paling tidak hal itu dilakukan setiap hari Jumat. Dalam hadis Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah itu Baik dan menyukai kebaikan; (Allah) Bersih dan menyukai kebersihan, (Allah) Pemurah dan senang pada kemurahan hati, (Allah) Dermawan dan senang kepada kedermawanan". (H.R. at-Tirmidzi).
Dengan demikian, tidak ada lagi alasan untuk menunda-nunda hidup bersih. Mari kita budayakan kebersihan dalam rumah kita. Meski rumah itu sederhana, yang penting bersih. Jangan biarkan sampah berserakan, sebab Allah akan "mengutus" lalat sebagai peringatan bahwa rumah kita kotor. Atau nanti Allah menggerakkan tikus-tikus untuk mengerubungi rumah kita.
Rumah harus bersih dari sampah, tapi lebih dari itu rumah juga harus bersih dari barang-barang yang bukan hak kita. Berhati-hatilah! Contoh sederhana, jangan membawa barang-barang kantor sekecil apa pun ke dalam rumah. Asbak, penggaris, spidol, isolatip, atau sekadar kertas. Jika itu bukan hak kita, nanti tidak berkah. Begitu pula saat pergi ke masjid. Jika melihat ada mukena atau sandal bagus, jangan sekali-kali ditukar. Itu termasuk perbuatan curang dan salat kita bisa tidak diterima karenanya.
Ada kesempatan menginap di hotel berbintang. Handuk, sarung bantal, korek api, sabun, pisau dan benda-benda milik hotel lainnya, jangan sampai terbawa pulang. Atau bagi mereka yang suka pinjam buku-buku perpustakaan, harus amanah. Buku itu mungkin tidak pernah atau selesai dibaca, namun berat untuk dikembalikan. Demikian pula halnya dengan barang-barang tetangga yang kita pinjam atau masih tersimpan di rumah kita. Segera kembalikan, sebab barang sekecil apa pun yang kita simpan, jika itu milik orang lain bisa menghalangi jalan rezeki kita.
Mulailah membersihkan rumah dari barang-barang yang bukan hak kita. Termasuk juga barang-barang yang bisa membuat kita riya alias doyan pujian dari orang lain. Mulailah menciptakan rumah yang bersih dari barang-barang yang tidak terpakai. Sebab tidak sedikit yang hobi mengumpulkan barang-barang bekas. Dipakai tidak muat, diberikan kepada orang lain sayang. Akhirnya malah mubazir. Sebenarnya tidak ada larangan bagi kita untuk mencari kehidupan duniawi. Dunia ini boleh buat kita, mau beli apa saja silakan, asal halal. Namun terlalu cinta dunia adalah sumber dari segala kesalahan. Dan yang paling penting adalah diri kita lebih bagus daripada barang duniawi yang kita miliki.
Bersyukurlah jika memang ditakdirkan menjadi orang yang berkecukupan, karena sahabat-sahabat Rasul seperti Abdurrahman bin Auf, Abu Bakar Ash-Siddiq, atau Usman bin Affan, juga memiliki kekayaan duniawiah. Tapi mereka memiliki kemampuan untuk mengelola kekayaannya demi kemaslahatan umat, sehingga mereka dihormati bukan lantaran kekayaannya melainkan karena kedermawanannya.
Selain bersih dari harta haram dan barang sia-sia, kita harus juga mulai membersihkan pikiran. Jangan membiasakan diri berpikir kotor. Nilai kita di sisi Allah tidak ditentukan oleh harta kita. Nabi Muhammad juga hidupnya sangat sederhana namun tidak kurang kemuliaannya. Jika dititipi kekayaan, janganlah hati menjadi terikat oleh kekayaan. Orang yang tidak zuhud itu kekayaan duniawinya disimpan dalam hati. Orang yang zuhud itu, bila dianugerahi kekayaan dunia, tetapi tidak pernah terikat, bagi dia seribu, sejuta, seratus juta sama saja, sama-sama milik Allah.Wallahua'lam.***
sumber: pikiran-rakyat.com

No comments:

Post a Comment